Suryo Ediyono
Judul Buku : Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Suryo Ediyono, M.Hum, "DARI OLAH DIRI KE OLAH SOSIAL: PENCAK SILAT SEBAGAI LAKU KEBUDAYAAN UNTUK MEMANUSIAKAN MANUSIA" (preorder)
Author : Prof. Dr. Suryo Ediyono, M.Hum.
Publisher : UNS Press
Bulan / Tahun Terbit : Oktober / 2026
Panjang x Lebar Buku : 14,8 x 21 cm
Kertas : Digital (PDF)
ABSTRACT SINGKAT :
Pencak silat merupakan bagian penting dari kebudayaan Indonesia yang menyatukan dimensi bela diri, olahraga, seni, serta pembinaan mental dan spiritual. Dalam perspektif filsafat, pencak silat dapat dipahami sebagai praktik kebudayaan yang berperan dalam pembentukan manusia. Tradisi latihan, hubungan guru dan murid, disiplin, simbol, ritual, serta kode etik menunjukkan bahwa pencak silat tidak berhenti pada penguasaan teknik tubuh. Di dalamnya terdapat proses pendidikan yang mengarahkan manusia untuk mengenali diri, mengendalikan kekuatan, memperhalus rasa, serta membangun budi pekerti. Pandangan tersebut berangkat dari penelitian mengenai pencak silat dalam pembentukan konsep diri manusia Jawa dan berkembang melalui kajian-kajian berikutnya mengenai nilai filosofis, simbol, dan fungsi sosial pencak silat.
Inti proses tersebut terletak pada olah diri. Dalam filsafat manusia Jawa, olah tubuh berhubungan dengan olah rasa, mesu budi, dan mawas diri. Prinsip ngelmu iku kelakone kanthi laku menegaskan bahwa pengetahuan memiliki makna ketika dijalankan, dialami, direfleksikan, dan diinternalisasi menjadi perilaku. Oleh karena itu, kekuatan dalam pencak silat tidak memiliki nilai dengan sendirinya. Nilainya ditentukan oleh kemampuan manusia mengendalikan kekuatan tersebut. Seorang pesilat dituntut memiliki keberanian sekaligus kesanggupan menahan diri, kemampuan bertindak sekaligus kesadaran akan batas-batas tindakan. Dalam kerangka ini, mawas diri menjadi landasan penting bagi pengendalian diri, tepa salira, tanggung jawab, dan pembentukan budi luhur.
Author : Prof. Dr. Suryo Ediyono, M.Hum.
Publisher : UNS Press
Bulan / Tahun Terbit : Oktober / 2026
Panjang x Lebar Buku : 14,8 x 21 cm
Kertas : Digital (PDF)
ABSTRACT SINGKAT :
Pencak silat merupakan bagian penting dari kebudayaan Indonesia yang menyatukan dimensi bela diri, olahraga, seni, serta pembinaan mental dan spiritual. Dalam perspektif filsafat, pencak silat dapat dipahami sebagai praktik kebudayaan yang berperan dalam pembentukan manusia. Tradisi latihan, hubungan guru dan murid, disiplin, simbol, ritual, serta kode etik menunjukkan bahwa pencak silat tidak berhenti pada penguasaan teknik tubuh. Di dalamnya terdapat proses pendidikan yang mengarahkan manusia untuk mengenali diri, mengendalikan kekuatan, memperhalus rasa, serta membangun budi pekerti. Pandangan tersebut berangkat dari penelitian mengenai pencak silat dalam pembentukan konsep diri manusia Jawa dan berkembang melalui kajian-kajian berikutnya mengenai nilai filosofis, simbol, dan fungsi sosial pencak silat.
Inti proses tersebut terletak pada olah diri. Dalam filsafat manusia Jawa, olah tubuh berhubungan dengan olah rasa, mesu budi, dan mawas diri. Prinsip ngelmu iku kelakone kanthi laku menegaskan bahwa pengetahuan memiliki makna ketika dijalankan, dialami, direfleksikan, dan diinternalisasi menjadi perilaku. Oleh karena itu, kekuatan dalam pencak silat tidak memiliki nilai dengan sendirinya. Nilainya ditentukan oleh kemampuan manusia mengendalikan kekuatan tersebut. Seorang pesilat dituntut memiliki keberanian sekaligus kesanggupan menahan diri, kemampuan bertindak sekaligus kesadaran akan batas-batas tindakan. Dalam kerangka ini, mawas diri menjadi landasan penting bagi pengendalian diri, tepa salira, tanggung jawab, dan pembentukan budi luhur.